Menulis adalah Obat

Rabu, Maret 20, 2019


image: gunselisepici.com
Bagi saya menulis adalah obat. Seperti rawat jalan saja, selalu butuh obat, selalu butuh menulis.

Aku termasuk manusia pelik. Aku paling dekat dengan diri sendiri.  Aku tak begitu dekat dengan orang tuaku. Tak pernah aku berbagi cerita kecuali cerita aku kehabisan uang atau aku sakit dan butuh uang. Jahat memang aku, hanya butuh uang.
Meski aku malu, aku juga tak begitu dekat dengan Tuhanku. Selain menggugurkan kewajiban dalam solat 5 kali dalam tiap harinya, aku juga jarang curhat dengannya. Malah kadang lebih suka meminta, dan tanya kenapa pada sepertiga malamnya.
Lalu aku juga tak seterbuka itu dengan karibku. Tapi di tahun ini pertemama kita begitu manis. Tahun ini aku  banyak mengungkap perasaan dan pikiran lewat menulis. Aku agak sedikit lega karena aku mau jujur dengan diri sendiri. Aku orang yang kaya dengan tawa tapi aku juga maha kayanya dengan air mata. Aku ini gampang bahagia tapi juga gampang terluka, itu masalahnya. Semua dengan porsi lebih. Ada satu orang yang tahu bagaimana aku mempunyai dua sisi itu.
Kenapa orang bilang tak peduli padahal kadang aku amat peduli? Ya aku sering acuh mengenai diri. Dulu aku juga tak perduli dengan kehidupanku. Begitu abu. Dulu aku pernah 2 minggu hanya di kamar kosan dan tak masuk kelas. Makan hanya mengandalkan deliveryan. Dulu, aku terlalu banyak berpikir. Mungkin dulu itu yang aku sebut quarter life crisis yang kecepetan. 
Aku nyaman, sendiri. Aku pernah ketika pulang dari kampus, pada jam makan siang, aku pergi ke rumah sakit kampus, dan saat itu juga aku langsung opname. Ya sepulang kampus aku harus rawat inap dalam keadaan aku hanya bawa dompet, buku kampus, dan ponsel yang mati. Meski ponsel mati, bahagianya aku bawa charger ponsel . Setelahnya aku tertidur karena obat dan infus membuatku merasa lebih hidup. Sorenya setelah tidur itu,  aku kabarkan pada teman kosan untuk mengambil kunci kamarku dan mengabarkan aku dirawat. Tujuannya sih biar ia mengambil kunci  pada ku yang sedang tergeletak dengan infus ditangan kiri, lalu ia bisa masuk ke kamarku untuk membawa baju ganti ku. Tatktik yang hebat! Nah, 3 jam berikutnya teman itu datang lagi membawa gerombolan anak kosan untuk menjengukku dan membawa banyak makanan. Eh, tak lupa juga baju gantiku.  Ya, aku bisa tertawa. Ada kelegaan waku itu. Tidak sendiri.  
Di waktu yang sama, teman satu organisasi dari satu angkatan dan senior ceritanya sih menjenguk ku ke rumah sakit. Sungguh ramai. Jadi sakit rasanya biasa saja. setelah ramai yang berangsur redup, di malam ketiga aku baru kabarkan pada orang tua ku kalau aku terkena tipus dan grasitis. Andai saja uang tabungan ku cukup, aku takkan kabarkan pada mereka berdua. Akhirnya aku bilang aku butuh dana untuk bayar biaya rawat inap kepada ayahku. Setidaknya laki laki akan tidak begitu panik kan kalau anaknya sakit. Tapi ia malah kabarkan sakitku pada ibu dan ya, seperti skenario biasanya cerita, ia malah menangis. Kabar menjalar pada nenek ku dan pamanku. Sudahlah, semua malah menyalahkanku untuk tak memberi kabar sejak awal. Kan aku pikir, aku juga mampu mengurus diri. Awalnya begitu.

Dari awal memang selalu ada satu karib yang selalu menemaniku ke klinik. Aku tak tahu kenapa aku harus sering cek darah untuk membuktikan aku memang baik-baik saja. Aku pernah terkapar dikamar kosan. Otak aku masih jalan tapi raga tak memberiku sedikit bantuan.  Akhirnya dalam seminggu aku harus balik ke rumah nenek dan sungguh, dalam 7 hari itu aku hanya mampu berbaring. Aku tak percaya aku sakit kembali. setelah kejadian opname 4 hari 4  malam itu, ditambah 7 hari untuk istirahat total. Semenjak itu apa yang ingin aku makan aku beli, apa yang ingin aku lakukan aku lakukan saja. Aku ingin jalan ke gunung, ya jalan. Aku ingin jalan ke pantai, ya jalan. Aku sedang mengobati diri sendiri. Karena, mungkin saja waktuku terbatas kan?
Dalam proses sakit, sembuh, lalu sakit lagi, hal terlucu dan menyedihkan adalah resep obat dari dokter yang nyleneh, diagnosis kesepian menyarankanku untuk cari pasangan. Aku tertawa, aku waktu itu lebih butuh kasih sayang Tuhan dibanding pasangan.

Untungnya sekarang aku lebih baik dari sebelumnya dan sangat baik tentunya. Sekarang, jadi lebih sadar saja untuk tidak menjadi seorang yang judge mental karena setiap manusia selalu ada-ada saja yang pernah ia lalui dalam hidupnya. Begitu.

You Might Also Like

0 Comments