Resensi Penolakan

Rabu, Mei 15, 2019



image: gunselisepici.com
Kadang ingin merangkum dalam satu kata penolakan tapi sayangnya hal tersebut terkesan lugas dan culas. Apalagi untuk kata yang terlalu fleksibel artinya- jika dikaitkan dengan hal yang flreksibel atau plin plan, perasaan maksuntya. Contohnya, kau tanya padaku begini, kau mau makan ayam? Aku jawab tidak. Lalu kau juga tanyakan lagi masa sudah di tempat makan kau tak juga makan ayam?Aku jawab tidak. Mungkin saja aku hanya ingin datang, duduk bersantai, dan menemanimu makan ayam. Jadi jawabanku tidak. Tapi bisa saja kalau kau tanya padaku besok siang atau besok sore saat tiba waktunya berbuka puasa, kau mau makan ayam? jawabanku bisa saja  iya. Kadang, kata “tidak” jika dihunakan sebagai antitesis penerimaan memanglah (sangatlah) tidak cocok untuk dirangkum menjadi satu kata, karena dibelakang itu masih banyak kondisi yang harus dijelaskan. Maksutku, kalau jawabannya tidak, bukan berarti tidak. Yakni tidak soalnya...tidak sih tapi...dan lainnya. Dan begitu juga hati manusia. Tidak memang bukan rangkuman dari kalimat yang mewakili penolakan. Coba saja tanya lagi, sore, malam, pagi, siang, “tidak” akan memiliki arti yang sangat banyak. Tidak mau makan ayam, tidak kepikiran bahwa akan makan ayam, tidak untuk hari ini tapi mungkin nnati, begitu.
Lalu, jika kau ternyata tak bisa mengajaknya makan ayam, ya sudah kau makan sendiri saja. mungkin nanti saat kau makan dia malahana jadi lapar dan ingin mencicipi, lalu akhirnya pesan satu porsi. Dengan begitu waktumu akan bertambah lagi dengannya bukan? Kenapa kau harus pastikan kau berdua sama sama makan ayam, atau harus makan ayam? Banyak cara mengajaknya makan ayam, bisa kau ajak langsung, atau kau bawakan langsung, atau hanya sekedar berdialog jenis jenis menu makan ayam kan? sebelum kau mengajak makan ayam pun seharusnya kau sok tau dulu apakah dia lapar,dia kenyang, atau dia malah sedang ingin teh manis, meski lapar kadang hanya ingin makan cemilan begitu. Kenapa orang lapar selalu diartikan ingin makan nasi dan ayam? Misalnya saja begitu.
Atau kau juga harus tahu, bahwa ada manusia yang tak suka dengan ayam, ayam geprek, ayam goreng, ayam apapun itu, tapi ia mau saja menemanimu makan ayam. Kamu akhirnya saling berbagi cerita meski tidak makan ayam.  Dan sungguh kau harus tahu jika ia menolak untuk tidak makan ayam berkali kali, bisa saja dia memang tak suka ayam, bukan tak suka padamu, itu saja. Bahwasanya, ayam menjadi menu tiap hari yang bisa orang nikmati dengan berbagai rasa dan pilihan jenis nan murah, tapi ia tak suka jenis makanan seperti itu, bukan murahan atau ada disetiap warung makan, memang seperti itu dia. Tapi kabar baiknya, bukannya ia akan memesan es teh manis  kalau kau mengajaknya ngobrol dan makan ayam. Lalu apa yang perlu disedihkan?
Memang narasi urusan perut itu ribet, apalagi menyangkut hak manusia yang lapar.


You Might Also Like

0 Comments