Sapiosexual

Senin, Mei 20, 2019


image: gunselisepici.com

Dalam beberapa hari yang lalu, dalam sebuah settingtempat di kampus tercinta karena ada acara buka bersama dan setelahnya duduk-duduk santai, ada satu kenalan atau kawan yang tiba-tiba memberikan istilah baru pada saya. Awalnya ia berkata, “hey kamu sapiosexualya?”, tanyanya. Dan saya hanya menjawab dengan “apaan?”. Maksutnya, dengan istilah sapiosexual pertama kali, dan memang sebelumnya saya jarang mendengar istilah itu dalam obrolan karibku, jadi saya berpikir apakah sapiosexualadalah jenis orientasi seksual atau berkaitan dengan kondisi kesehatan mental atau lainnya. Setelah pertanyaanku lalu ia menjawab bahwa maksutnya dari istilah sapiosexual adalah kondisi dimana seseorang hanya tertarik pada orang-orang cerdas atau orang yang pintar. Setelah mendengar istilah itu saya tambahkan pertanyaan padanya, apakah maksutnya ketertarikan pada lawan bicara atau lawan jenis? Dan ia meresensi bahwa ketertarikan mengenai cinta pada lawan jenis. Kemudian saya balas saja bahwa sepertinya ketertarikan pada lawan jenis khususnya untuk segi love relationship saya tidak bisa men-judge atau ada indikator khusus. Lalu ia melontarkan pertanyaan selanjutnya,
”tapi kamu pemilih dalam berbicara atau ngobrol dengan orang yang kamu terarik kan?”,
“hem, untuk obrolan yang biasa sepertinya tidak begitu. Oke tapi untuk ketertarikan menuju relationship saya bukan memilih orang yang cerdas atau pintar untuk memulai obrolan saya. Tapi lebih ke istilah cocok, lebih baik cocok meski berbeda pendapat tapi masih bisa berlanjut untuk mengobrol apapun”
“iya, tapi ga cocok males kan? ga mau ngobrol?”
“haha, iya juga sih, ngapain ngobrol sama orang yang ga cocok di obrolan dan ga nyambung apa yang saya obrolin.”
“nah itu maksutku, kalau kamu sapiosexual. jadi kamu lebih suka ngobrol sama orang yang menurutmu obrolannya “deep”dan tidak biasa yang menunjukan sisi kognitif mereka”
“hem , oke, mungkin bisa seperti itu”.

           
            Oke, selintas obrolan saya dengannya menggiringku pada sebuah platform mesin pencari terkemuka untuk mencari istilah sapiosexual. Nah yang saya temukan menurut laman urbandicitionaryyang intinya adalah ketertarikan pada pemikiran manusia atau menganggap bahwa otak adalah hal yang paling sexy. Lebih dominan ketertarikan pada otak (pemikiran) dibandingkan dengan tampilan fisik. Dari istilah itu, bisa dilihat bahwa tendensi ketertarikan pada seorang manusia adalah bagaimana cara berpikir atau produk pemikirannya dibandingkan mata coklatnya, atau rahanggnya, atau cara jalannya.
Secara subjektif, memang iya sih. Walaupun kita tak bisa judgemnetal dari awal mengenai indikator kecerdasan seseorang dari awal kita ngobrol. Tapi sebenarnya bisa kita taksir loh, misal nih kamu tanya saja film kesukaannya apakah ia adalah penggemar series tipe game of thrones, atau yang tipe pretty little liar, atau malah series asia seperti drama korea, gampang kan mengkategorikannya. Atau yang paling gampang sih buku bacannya apakah dia tipe yang buku bacaanya terbitan gagas media, hasta mitra, bentang pustaka, gramedia, atau tipe buku impor lainnya.
Setiap kepala memang punya tendensi yang berbeda, tapi ketika kawanmu berkata dia tidak suka dengan brainless beautyberarti ya dia adalah sapiosexual atau yang melihat bahwa “sayang sekali karena obrolan yang keluar malah dia kelihatan tidak semenarik penampilannya”, “atau mending kamu jangan ngomong deh diam ajau udah cantik,” dan lain sebagainya.
Mungkin istilah sapiosexual tidak bisa saya terima sepenuhnya bahwa saya adalah tipe yang seperti itu. Meski ada saksi mata yang melekatkan istilah itu pada saya. Bahwasanya, tindakan seorang yang sapiosexual memang terlalu pemilih kan? kok sepertinya saya jahat sekali tidak ingin memulai mengobrol dengan orang lain, atau malah saya kategorikan orang-orang dengan kategori tertentu. Atau kasarnya hanya mau menjalin cinta dengan orang yang pintar saja. Tapi memang kadang itu adalah di tendensi awal seseorang, seperti bagi saya,  ketika mengobrol tapi kok malah beda frekuensi, ya sudah mending ditinggalkan saja, dari pada menyamakan frekuensi yang beda dan buang-buang tenaga kan? Maka dari itu, saya lebih suka mencari yang cocok saja. Jadi istilah sapiosexual yang dilontarkan kenalan itu ya tak bisa saya terima sepenuhnya. Kenapa? Karena istilah sapiosexual menunjuk pada seorang yang tertarik hanya pada orang cerdas, maka lawan dari  itu dia tidak suka dengan orang bodoh. Meski antitesis itu juga tidak mebenarkan bahwa sapiosexualadalah orang yang sombong dengan kecerdasan mereka. Lagian juga setiap orang mendambakan kecerdasan pada setiap orang yang ia suka, dan setiap orang punya genre kecerdasan atau definisi kecerdasan yang berbeda. Jadi, bisa jadi semua orang adalah sapiosexual hanya dengan genre tertentu kan.
Namun, istilah itu hanya akan terlihat oleh orang lain, meski kau bersikeras bahwa image yang kau bangun adalah orang yang biasa saja, tapi jika ternyata image mu berkata lain, kamu harus butuh banyak tenaga untuk mengubahnya. Dan balik lagi ke istilah sapiosexual, istilah itu bisa positif dan negatif tergantung bagaimana kau melihatnya. Kalau kau adalah orang dengan tendensi seperti itu ya tidak ada salahnya kan, karena setiap orang memang punya indikator ketertarikan sendiri. Namun, bukan berarti orang yang tidak masuk kategori mu adalah orang yang tidak patut. Ya meski dalam tindakan susah juga kan? kalau ada yang ngajak ngobrol tapi kok rasanya obrolannya “receh amat”, kan juga buang tenaga? Ya bisa disiasati ngobrol seperlunya dan dengan kaidah bahasa yang sesuai.





You Might Also Like

0 Comments