BOTCHAN | MENGULAS BUKU

Minggu, Januari 12, 2020


Judul buku: botchan
Penulis: Natsume Soseki
Alih bahasa: Indah Santi Pratidina
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-3167-6
Cetakan ketujuh, Februai 2017
224 halaman

Seperti ceritra The Adventures of Huckleberry Finn, Botchan mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap “sistem” disebuah sekolah desa. Sifat botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Cerita yang dituturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang modern.

Bacaanku kali ini seperti cemilan yang susah sekali untuk berhenti dikunyah. Meski narasi diterjemahkan dari bahasa inggris, bukan dari bahasa jepang langsug, tidak ada kendala untuk merasakan setting tempat yang terkandung  dalam narasi ini. Buku ini enak sekali dibaca, dan setelah melewati seperempat buku ini, hanya ada pertanyaan atau lebih tepatnya perkiraan tentang tokoh ini terlalu egosentris kah?

Pertama, dia judging sekali dengan watak, penampilan, orang di desa baik guru dan murid di sekolah itu. Tokoh ini, dalam seperempat narasi yang kubaca, memberikan nama panggilan “si Tanuki...dll” yang menurutku dia tidak sopan. Lalu, judge yang diberikan pada murid sebagai babi yang bodoh, serta dengan adanya rasa prestis sebagai orang yang berasal dari edo.

Namun, kenapa  para siswa melontarkan candaan yang memang “tidak berkelas”, bukankah hal itu wajar? Makan mie 4 mangkok sendirian? Tapi seiring aku membaca, kadang tak wajar juga jika tokoh ini makan mie 4 mangkok sendiri, apalagi dengan setting desa kecil. Kadang terlihat boros juga, dan belum tentu orang sekitar di desa, baik murid dan guru semampu itu untuk sekali makan mie menghabiskan 4 mangkok. Tapi, kasus pemandian air panas, dan kasus suara tapak kaki saat Tokoh jaga malam, memang membuat “cemilan” ini menarik untuk dikunyah. Dan memang membuat penasaran. Apalagi sajiannya di bumbui humor pula. Meski kadang humornya, humor yang agak “bodoh yang polos” juga sih.Tapi berkaitan dengan bodoh, apakah tokoh ini bodoh? Terlalu emosian? Dan kadang, malahan aku berpikir bahwa ini karma! Ya karma, karena dia bandel seperti bagaimana Soseki mendeskripsikan tokoh ini.

Dari apa yang aku tulis di atas, sebagian besar memang terkaan dan rasa penasaran bagaimana cerita ini akan mengalir. Sungguh, buku ini sangat asyik sekali dibaca, entah kau mau baca di kosan, di kereta, di bus, di stasiun, sesukamulah. Tapi, aku yakin buku ini bisa membuat waktumu berjalan seakan lebih cepat dari biasanya!

Dari buku ini, benar juga sih, ketika orang yang terlalu apa adanya dan jujur tentang siapa dirinya (menjadi dirinya sendiri) kadang susah untuk diterima orang lain. botchan di sini, selalu mengungkapkan apa yang ia suka dan tidak suka, perlu dan tidak perlu. Namun, kendati demikian, kebiasaan itu bisa dilihat naif dan amatir. Karena dia menyikapi dunia dengan sederhana sedang orang lain melihatnya dengan dangkal. Tapi mau bagaimana lagi, kadang manusia memang hidup tidak bisa “kalau menuruti kata orang, kita tidak bisa menjadi diri sendiri”. Lagian, kalau terlalu berpusat pada diri sendiri,naif juga tidak bisa terima kritik sosial.

Namun, setelah kau selesaikan buku ini, atau jangan tunggu sampai selesai, dipertengahan narasi akan maklum bagaimana botchan bersikap dan menyayangkan sekali bagaimana salah satu rang di desa itu. Ya walaupun kadang gregetan dengan botchan tapi lebih gregetan lagi ketika “akhirnya” baaimana dia melaku.

Buku ini menurutku mengalir saja dan soseki sagat mudah mempengaruhiku untuk terjun daam “judge” botchan, dan akan kaget setelah semuana terbongkar.



You Might Also Like

8 Comments

  1. Baca sedikit aja referensinya bikin penasaran nih, bagus yaa ceritanya..

    BalasHapus
  2. menarik banget nih teh ceritanya jadi pengen baca full sebuku hehe

    BalasHapus
  3. Cerita tentang guru Itu seru, cerita tentang guru itu luar biasa.. Hidup Para Guru

    BalasHapus
  4. Wah wah menarik ya kayaknya bukunya. Aku jadi penasaran dengan Botchan. Kudu baca lengkapnya nih buku ini.

    BalasHapus
  5. Unik banget ukuran bukunya kecil yaa Teh jadi bisa dibawa kemana-mana kalo mau baca buku ini

    BalasHapus
  6. Covernya unik selain itu kecil.jadi bisa dibawa kemana saja

    BalasHapus
  7. Jadi pengen baca kisahnya Botchan. Cerita dari Jepang memang seringkali menarik😊

    BalasHapus
  8. wah suka sama reviewnya, bikin aku jadi penasaran

    BalasHapus