dua puluh empat per tujuh ku

Sabtu, Februari 01, 2020



Aku yakin 100 persen dengan garansi sampai mati, kalau dengan hiperbola, hadirnya sosok ibu seperti penyedot debu. Semua ruangan bersih, tanpa ada kecuali. Semua barang-barang terletak di tempat yang sesuai. Mesin cuci berisi cucian kotor akan kosong setiap dua hari sekali. Makanan tersedia dan ditutup tudung saji. Air putih full di galon dan di teko. Kulkas bersih dan penuh dengan sayur mentah di area paling bawah, telor di pinggir atas, daging ayam di bawah freezer, buah bagian tengah kulkas, dan tak ada cemilan!

Ia juga seperti radio, dengan ribuan kata yang keluar seperti embun di pagi hari, selalu muncul kembali, selalu-kembali-diulangi lagi. Ratu yang berkuasa di dapur dan segala penjuru rumah. Mengantarku pergi ngaji, mengambil rapot ditiap tahun ajaran baru, mengantarkan aku check up setiap bulannya, menunggu ku pulang sekolah, kesepian saat aku peegi sekolah, pergi ke pasar dengan rengekan ku membeli buku baru, tas, dan sepatu.  Tagihan baju baru saat menjemput hari raya, serta hal baru di saat tahun baru.

Bagaimana harinya sekarang atau harinya yang dulu, saat aku tinggal sekolah atau saat aku tinggal kuliah. Bagaimana keadaannya sekarang, aku yakin sudah lebih membaik, tak pernah ada opname dadakan. Tahun lalu sang Ibunda sedang sehat sehatnya, tak perlu aku jaga malam lagi seminggu. Tak perlu lagi aku izin tak bisa ikut kelas dibeberapa hari itu.

Raganya kuat, hatinya kuat. Ia hebat. Meski air matanya sudah mengering sejak aku masih kecil. Tidak, airmatanya sengaja ia bendung, karena keadaan dan  tak perlu merundung, optimis terus katanya! Aku dibebaskan mengambil langkah,untuk pergi jauh, belajar hidup. Hidup yang lebih baik. Hidup yang jauh,jauh, lebih baik. "Jangan keluarkan air mata untuk hal yang tak berguna” katanya, “ jangan terlalu bergantung pada hamba tapi penciptanya”, katanya. Meski sepi bukan berarti kamu sendiri,itu juga katanya.

Dua puluh empat pertujuh ku perihal ibu. Tiap harinya, tiap bulannya. Sedang bulan paling spesial adalah tanggal dua delapan. Atau akhir minggu, hari sabtu, akhir bulan. Aku selalu tunggu di depan TV 32 inchi, sembari ditemani kartun kesukaanku. Kala pagi datang, di akhir bulan, biasanya ada laki-laki tua yang membawa buah tangan. Kabar buruknya, bisa jadi penantianku  tertunda sampai sebulan atau dua bulan berikutnya. Siapa lagi dia, kalau bukan yang aku sebut Bapak.

Janggal? Tentu saja aku merasa janggal. Aku harus menunggu setiap bulannya di depan TV 32 Inchi. Sejak depan kartun kesukaan sampai depan laptop untuk tugas dan laporan. Ada yang tidak beres. Tapi anak kecil, mana peduli setan. Tapi bocah juga punya oikiran, dan tau resensinya dari sebuah keluarga memang tidak semua sempurna yang diharapkan. Jadi, bagaimana kabar ibu? Masih berusaha keras menjadi seirang ibu? Peran ganda memang tak tanggung-tanggung lelahnya.

Denganmu aku tahu, orang yang paling rapuh adalah orang yang begitu kuat. Aku takan pernah lupa air matamu untuk siapa, jadi tenang saja, aku selalu jaga diri di tempat ini. Masih banyak hal menyenangkan yang membuat aku ingin tetap bertahan hidup di dunia ini. Aku sudah sembuh total, aku tidak sakit sakitan. Tidak sedih sedihan. Tidak sendirian,banyak teman dan keluarga baru di ranah baru.
Maaf belum bisa memberi makna yang berarti. Maaf,  sedang sering makan tapi jarang olahraga renang. Jarang cuci baju tapi malah laundri ditempat  baru. Jarang makan nasi tapi jajan di luar selalu.
Maaf, aku kadang sengaja tak dengar omelanmu, tak perhatikan khawatiranmu, mana aku kuat kalo aku tiba tiba menangia dihadapanmu. Aku malu! Tau lah, bagaimana seorang yang sedang berusaha menahan tangisnya.
Terimakasih, nanti aku yang yang gantian antar jemput ya! Gantian masak, isi kulkas, cuci baju, dan yang lain. yang seperti itu sih gampang!
Sudah ya.



*sumber gambar : <a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background vector created by rawpixel.com - www.freepik.com</a>

You Might Also Like

0 Comments