Hujan Sendiri

Kamis, Mei 07, 2020


Aku sengaja memaksakan untuk pulang jam lima sore ini, tapi tidak sengaja memprediksikan bakalan kehujanan di jalan nantinya. Dan ternyata memang hujan datang, keroyokan, seperti menyemangati perjalananku naik motor sendirian. Sendirian. Kalian pasti tahu kan rasanya sendirian? Membawa diri sendiri, kecemasan, hutang, kesedihan, tantangan, dan tentunya kebahagiaan- itupun kalau ada.
Dingin sekali air hujan kali ini. Mungkin air hujan Bandung memang berbeda. Bau petrikor biasanya lebih kuat kala hujan tiba. Tapi kali ini kok beda. Oh, mungkin jalan raya menyerap semua bau-bauan itu. Harapanku, aspal ini juga mampu menyerap semua pikiran-pikiran destruktif kala manusia sedang hilang waras karena sepi. Kalian harus percaya, kesepian membunuh seseorang, dan aku ingin kalian adalah orang yang tak sedang kesepian. Aku tidak ingin kalian merasakan kekosongan yang tak ada habisnya, rasa mengambang saat jalan ke kampus, rasa hambar saat makan seblak ataupun minum Cola. Rasa yang tak ada rasanya itu, semoga kalian tidak merasakan. Dan yang pasti, aku tak ingin kalian ada yang mati karena sepi. Kalian sendiri, tapi tak sendirian, dan aku juga begitu.
Sungguh, perjalanan naik motor sendirian dari Bandung menuju Jatinewyork itu serasa perjalanan dalam perhelatan pembuatan skripsi. Lurus terus satu arah, tapi sering macet. Macet karena lampu lalu lintas. Macet karena banjir di depan Pasar Gede Bage yang selalu masuk berita di TV nasional. Padahal sudah jelas lurus, sudah jelas bakal lulus. Tapi, yang namanya sebuah kejelasan belum tentu jalannya mulus. Siapa yang tidak tahu? meski tinggal jalan lurus, tiba-tiba hujan, banjir, macet yang nantinya juga butuh meneduh. Terus, kalau jalan lurus ada kecelakaaan, yang harus rehat sejenak. Gitu kan? meski sudah ada kejelasan bukan berati berakhir ke tempat tujuan. Padahal bayangan dan jiwa sudah ditempat tujuan. Seperti aku yang sedang naik motor ke Jatinewyork, meski tahu bakal sampai, ya kadang ambil jalan lain, akrena macet, karena banjir, atau karena "atau atau" lainnya. 
Seperti itu kan kalian hidup? Jadi jangan terlalu keras pada diri sendiri, jangan terlalu ngoyo untuk lurus- lurus terus. Kadang kamu harus rela buat ngikutin aturan sang Maha, kamu harus belok, ya bukan masalah. Daripada kamu kejebak macet di Gede Bage kan? Ayolah, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau kamu kepikiran kata orang, orang lain belum tentu memikirkan kamu. Tapi yang tentu, kalian kadang yang paling tahu siapa mereka itu. Kalian pintar, dan aku pun begitu. Ikuti jalan dulu, jalan pulang dan kedinginan dikeroyok hujan.
Seharusnya aku meneduh sebentar, soalnya aku harus memakai raincoat ku yang memang sudah aku siapkan di tas belakangku. Sebagai wejangan untuk diri sendiri kalau nanti papasan sama hujan, bisa langsung berhenti terus ambil raincoat dan memakainya. Tapi kalian tahu pasti, mager  juga penyakit yang bikin diri sendiri rugi, kalau mager berhenti buat pakai rain coat- ya rugi, bakal terguyur dan kedinginan.
Semoga tak bosan dengan perkara hujan sendirian dan kedinginan. Aku hanya ingin kalian tak perlu memaksakan hidupmu untuk selalu mengikuti kehendakmu, kadang mengalah dengan ego adalah sebuah pengorbanan besar bagi sebagian besar individu, tapi , mungkin itu cara Tuhan untuk membuatmu istirahat sebentar. Istirahat bukan berarti kamu gagal dan kamu tidak sendirian. Seperti aku yang kedinginan sendiri menuju jalan pulang.  Hujan tapitidak sendirian.
carlywatts.blogspot.com
carlywatts.blogspot.com

You Might Also Like

0 Comments