PAYAH

Minggu, Mei 03, 2020


Bumi ini sedang menyepi, bukan. Bumi ini sedang tunjukan kuasanya. Banjir serbu ibukota. Tak tau malu atau anggap saja sebuah keberanian sampai air masuk istana petinggi republika. Gunung api memberikan dukungan dengan letusan, lahar,abu, serta magma yang diam kini berseru untuk ikut adil dalam menyuarakan. Opini ini sebenarnya yang perlu dikebut DPR untuk pertimbangan kebijakan. Bukan menjadi berani anti korona dan mengesahkan UU omnibus law dan cipta kerja.   

Korona? Iya, menjadi menu pembukan Ramadhan 2020 ku. Di bulan Maret, korona menjadi bullyan rakyat bahkan sampai menteri. Tak perlu takut karena indonesia panas, tak perlu masker karena kita akan tetap waras. Nyatanya, sudah tiga bulan ini menjadi rekor para tukang gali kubur, mereka lembur. Sirine ambulan menjadi sebuah nyanyian tiap jam nya. Lebih sering dari Adzan yang dikumandangkan setiap masjid di ibukota. Pasar sepi, tapi supermarket menjadi kosong karena diborong habis para manusia yang takut kehabisan bahan makanannya.

Keluarga lain, menangis trauma karena ia tak bisa lihat jazad suaminya. Dikuburkan 2 jam setelah matinya ia, karena korona. Dibungkus plastik dan digulingkan ke lubang khusus penderita korona. Keluarganya dijauhi, anaknya dibulyy, ibunya berisak tak waras mengecam orang yang ingin bertandang. Ia isolasi diri 14 hari, dan tak tau sampai berapa lama sebab dukanya.

Dalam ironi lain, keluarga percaya bahwa korona  hanyalah titipan sang maha kuasa. Tak  perlu takut akan korona karena nyawa adalah di tangan kuasa. Mereka menjadi tidak bernalar saat menghampiri kematian. Jenazah ibunya terbungkus plastik saat kembali pulang dari rumah sakit. Kelurga mengecam ulah tenaga medis, tak punya humani dan nurai katanya. Mereka buka bungkusannya, mereka mandikan mayatnya, serta para tetangga berbondong datang mebawa doa dan membawa kamera di tangannya. Viralkan berita, bahwa jenazah korona kembali di buka bungkusnya dan diberi perayaan layak karena keluarga sungguh sayang pada yang mati. Sedangkan yang hidup? Kini seluruh penduduk desa isolasi layaknya zombi. Mereka menjadi orang dengan pengawasan korona akibat ulah manusia yang masih sayang pada jazad. Kini para tetangga yang datang dengan kamera, telah selesai melaksanakan tugasnya. Mereka viral, karena satu desa terkena virusnya.

Para pemulung? Pemulung menjadi sebuah mata pencaharian di Kartu Tanda Penduduk. Pencaharian mereka menjadi riskan bahkan sekarang hanya mampu diam. Seorang ibu pemulung mati meninggalkan anaknya yang balita dan suaminya. Ia mati muda, bukan sebagai pahlawan atau korban, tapi mati kelaparan. Tapi sebut saja ia korban tak kepedulian.

Lancung sekali hidup di negeri ini. Para petani digusur sawahnya, mereka harus cari kerja di ibukota. Sekarang ibukota sakit, lalu mereka harus apa? Eh minggu ini pak presiden bilang kalau BUMN harus buka sawah baru.  Siapa yang akan mengurus pak?

Presiden kita letih sekali. Rakyatnya bertumpu pada dirinya yang hanya satu. Bahkan belum lama ini ia adalah anak yang baru ditinggal ibunya sendiri. Berduka dengan dirinya, disusul kematian rakyatnya.

Kampus,sekolah, restoran libur. Anak anak hanya menonton tv seharian. Remaja hanya nonton netflix seharian. Sedangkan beberapa para orang tua renta menunggu ajalnya sendirian.

Bagaimana aku menjadi kuat saat semua rapuh? Apakah nyawa manusia bukan lagi prioritas? Orang (sebut saja DPR) berkumpul berbicara UU, kekuatan ekonomi, investor, sedangkan di negerinya sendiri napi apa kabar? Masih dikunci dalam satu ruang berisi puluhan?

Para wanita di PHK, para lelaki? Tak ada bedanya. Kasus buruh Aice apa kabar? Sudah hilang di media karena korona yang matikan ratusan jiwa? Tapi ribuan jiwa sudah mati dulu hatinya sejak lama?

Menyepi menjadi hari raya umat dunia. Berdiam di rumah saja, tetap jaga jarak agar semua bisa selamat dari korona. Berita baiknya? Produksi sampah menurun, jakarta contohnya. Sayangnya, menurun juga penghasilan para pekerja. PHK menjadi solusi, namun pemerintah meluncurkan kartu prakerja sebaga penambahan skill para pengangguran untuk melamar kerja, sedangka para pemilik usaha sedang ketar ketir nasibnya. Pemikiran jangka panjang, memang. Setelah baik nanti para pengangguran bisa mendapatkan kemampuan. Tapi, lowongan kerja apa kabar? Para pemilik usaha apa kabar?

Oh satu lagi,
Apakabar rapid test korona?
Orang orang dibubarkan oleh para rombongan kepolisian? Oh, polisi bukan rakyat yang harus jaga jarak. Tak berlaku pula social distancing. Bekerja dengan apd di jalan, dan menjaga ketertiban dengan bergerombol. Agar semua aman? Agar semua nyaman!



image:rohaneason.com
rohaneason.com
rohaneason.com

You Might Also Like

0 Comments