Skripsi atau Anxiety?

Jumat, Mei 08, 2020

image:https://www.collater.al/alessandro-gottardo-shout/
Para pejuang tugas akhir bakal relate banget ga sih? Hidup tiba-tiba jadi lebih dalem gitu maknanya. Apa-apa jadi dipikirin atau malahan kepikiran. Mikirin kenapa gini banget ya hidup, padahal sebelumnya juga biasa biasa aja. 
Maksutnya, kita tahu apa kekurangan kita tapi kenapa kita belum bisa melepas itu semua. Kalau ga, kesalahan kita diulangi lagi meski kita udah berniat banget ga akan mengulangi kesalahan yang sama. 
kamu ga sendiri
Sebenernya, ga kamu sendiri kok yang rasain kepanikan atau malah sampai susah napas kalau mikirin atau kepikiran skripsi. Banyak orang yang harus laluin itu, sedang melakukan itu, dan telah lewatin itu. Kadang, liat orang kok kayak gampang gitu ya buat ketemu dosen terus revisian, lalu sidang dan foto kelulusan? Kalian yang termasuk gitu ga? Jangan minder, banyak kok yang gitu dan kamu ga sendirian. 
Jadi insomnia, sering ketawa tapi bisa langsung nangis gitu aja 
Iya, perihal skripsi itu ga gampang kok. Yang bilang gampang mungkin emang mentalnya kuat banget, dan pinter. Kita terima aja kalau emang kita ga begitu "pinter" jadi ikutin alurnya aja. Meski jadi insomnia, mimpi buruk, mimpiin dosen, di php in pas bimbingan, dan pura pura bahagia dan selow aja padahal dalem hatinya berdarah. Aduh....

Awalnya, Perskripsian dunyawi tidak terlalu dipikirkan. Udah jalanin aja gitu nanti juga bakal selese. Awalnya pasti gitu deh, iya kan? Tapi setelah dijalani ternyata fokus kita pada sebuah skripsi malah fokus pada kegagalannya. Fokus pada gagal lulus sesuai target, gagal soalnya temen udah UP duluan, gagal soalnya temen udah pada kerja duluan.
kita lebih tahu apa masalah kita dan solusinya. Tapi kenapa ga dilakuin? Jawabannya, berdamai untuk jangan berfokus pada kegagalan. Mulai aja dulu. Kerjain aja 5 menit, satu per satu. Setelah 5 menit, kamu ga akan ngrasa bersalah karena ga buka laptop kamu
Biasanya, panik dan pusing skripsi itu bukan karena skirpsinya kan? 
Tapi kamu nyalahin diri sendiri karena ga sesuai ekspektasi kamu, kamu ga bisa memenuhi harapan orang tua kamu, kamu merasa bodoh dengan keterlambatan kamu. 
Padahal, kamu bisa loh fokus pada keberhasilan kamu. Kenapa kamu ga apresiasi diri kamu yang sudah bisa sampai detik ini. Misalnya, kamu udah berhasil lewatin semua matkul dan lolos untuk daftar skripsi. Bagus kan? Meski kamu ga secepat teman kelasmu. Apresiasi kamu juga bisa berhasil dalam bidang lain, kamu berhasil jadi mahkluk sosial dengan karakter kamu. Misalnya, kamu bisa menjadi pendengar untuk keluh kesah temanmu. Kenapa kamu ga apreasiasi diri kamu, ga semua orang jadi pendengar yang baik loh.
kenapa kamu fokus pada kegagalanmu. Padahal kamu butuh apreasisi diri atas semua keberhasilanmu atau usahamu untuk sampai detik ini
Intinya, kamu bukan gagal. Kamu tidak pelu cepat kan? Kamu perlu selesai. Jadi, mantranya "cicil aja sedikit-sedikit". 
kalau kamu lelah dan berpikir kayaknya gw ga bakal lulus, itu salah. Lulus adalah hak setiap mahasiswa. dan kamu juga bisa
Setelah kamu kerjain dan ternyata kamu ga kuat menahan beban, kamu cerita ke temen deket. Kalau orang tua bukan pilihan yang tepat, teman seperjuangan atau temen deket bisa jadi pilihan. 
Jangan tutupi kalau kamu baik baik saja.  Terima saja kalau kamu tidak baik-baik saja. Keluhkan ceritamu, komunikasikan. Setidaknya kamu melepas negativiti diri kamu
Dengan menerima kamu tidak baik-baik saja, maka kamu otomatis kamu juga akan berusaha utuk pulih. Kamu akan pulih dan kuat untuk melihat bahwa semuanya ternyata berawal dari terlalu banyak dipikirkan. Terlalu banyak dibayangkan. Jadi, kamu akan bergerak sedikit lalu kamu akan terbiasa pada proses. 
Tidak ada lagi menyalahkan diri. Tidak ada yang namanya telat. Tidak ada yang namanya malu. Semuanya, Kerjain aja dulu.

Semua itu adalah mantraku saat sudah 1 tahun "menghilang" tidak bimbingan, karena bayangan ketakutanku snediri. Cemen? Pecundang? Iya. Kala itu, memang iya. Tapi semuanya sudah lewat. Dengan menerima memang tidak baik baik saja. Dan akhirnya, sudah melewatinya. Semua perah pada masa itu, kamu pasti juga bisa.

Kalau cerita skripsian kamu gimana?  

















You Might Also Like

0 Comments