Buku: Zarathustra Oleh Friedrich Nietzche

Kamis, Agustus 20, 2020

Judul : ZARATHUSTRA- Friedrich Nietzche
Diterjemahkan dari Buku Also Sprach Zarathustra
Penerbit Cakrawala Sketsa Mandiri, 2017, 14x20 cm xii+260 hlm



Manusia alam lain menjadi judul yang aku nikmati (pas baru awal-awal baca), apalagi dengan analogi masusia alam lain. Sekiranya, setelah membaca ini kok aku tertawa, dan lucu juga ketika Zarathustra menyebut mereka manusia alam lain, -yang belajar dengan menghayal alam lain itu, yang seperti orang sakit mengikuti setapak manusia yang membabi buta. Menderita dan sekarat.
Tapi, yang indah dengan jalan setapak itu terlalu jauh di sana, lalu beranggapan andai saja ada jalan setapak lain dan mereka buat jalan rahasia dengan darah mereka ! Oh!

Kesan saat aku membaca judul Metamorfosis, seakan aku ingin ngobrol begini

"Sang naga sebagai tuan dari tuan penguasa, sang unta, macan, dan bocah manusia. Kita manusia terlahir sebagai unta untuk merendah dengan segala beban, yang berjalan dalam jalan tak ada ujung di gurun. Untuk mendapatkan kebajikan dan kebaikan diri kedepannya, memang harus merendah. Namun ada masanya ketika beban itu membentuknya dalam perjalanan, unta menjadi macan yang berani, untuk mencari kebenaran. Lalu menantang naga perihal kebebasan. dan macan tak perlu membawa beban, ia bebas melenggang, dia tak harus mengira bahwa itu harus. Manusia yang menjadi macan punya kehendak untuk berjalan. Ia memang tau tak bisa berkuasa akan nilai sang naga, apalagi menciptakan nilai. Namun ia mampu menciptakan kebebasan, dan dengan kebebasan itu di bisa berkehendak untuk menjadi macan. Ketika manusia menjadi seorang yang mampu berkehendak ia bebas. Iya, lalu macan menjadi seorang manusia yang lugu polos suci, lalu bagaimana bisa seorang manusia itu lakukan padahal macan saja tak bisa. Oleh karena itu ia, roh itu memisahkan diri dari dunianya dan sudahlah ia biar memenangkan dalam dunianya."

Dari 30 kumupulan judul yang ada dalam Zarathustra, hampir semuanya menjadi yang aku suka. Sayangnya, buku dengan 260 halaman ini, meski tipis tapi bacanya lama. Aku butuh 2 hari untuk buku lain yang halamannya sama, namun butuh 6 hari untuk merampungkan Zaratustra. 

Semua tulisan cerita di buku ini, setiap diksinya bisa dinikmati dan diambil pelajaran. Kadang juga ada yang tidak aku mengerti bagaimana meresapi dan mengartikan tulisan ini. Tapi, buku ini memang harus teman baca. Menurutku, dalam tulisan ini mengajarkan tentang pertemana, bagaimana menghadapi musuh, melihat diri sebagai manusia, perjalana, dan pasti kebajikan. 

Setidaknya, dari 260 halaman dengan bahasa indonesia, bisa mendapatkan pengalaman manusia dengan ratusan tahun umurnya. 

You Might Also Like

0 Comments