DI(A)LOCK

Jumat, September 11, 2020

Ibuku berseru,nak jadi pegawai negeri saja.

(Aku durhaka.)


Nak, kamu mau jadi apa?

(Aku menulis bu.)


(Nak, kau manusia? Kawinlah.)

Belum saatnya.


Nak, tuhan sedang mengamatimu.

(Iya, aku sampaikan pada salat malamku yang jarang jarang itu)


Nak, tidak kau kembali saja?

(Banyak rumah yang bisa aku singgah. Aku berhutang pada bumi ini yang  memberiku banyak keluarga)


Nak, adikmu berulah lagi?

Abaikan saja, saatnya dia harus menyepi. 


Nak, kau terlalu lama pergi.

(Aku sedang menabung rindu agar hari raya bisa bertemu)


Nak jaga kesehatan, meski sendiri jangan kesepian.

Mak, hidupku banyak orang orang hebat disampingku. Kau, dan juga manusia-manusia yang mampir dalam perjalananku.


Nak, sepertinya hidup kita selalu saja begini?

(Bagus kan. Kita akan selalu belajar bersyukur)


(Mak, menikmati keindahan dalam celah tidak karuan hidup, malah akan lebih terasa bersyukurnya. Hidupku lumayan manis dengan banyak penghilang dahaga. 

Untuk masalah pegawai negeri, belum saatnya mak. Jangan anggap durhaka ya.

Jaga kesehatan)


Nak korona itu apa. Social distancing untuk apa? Apa gunanya buat kita. Apa efeknya buat kita?

presiden ke presiden ekonomi tidak membaik tidak ada yang salah dan benar ari dulu. 

(Orang kecil gampang disetir, antara nyata atau hanya konten berita)

(Tapi, jaga kesehatan patuhi aturan. Biar kita sama sama aman. Mak, apalagi indonesia katanya di lockdown negara luar) 


You Might Also Like

0 Comments